Meriyansyah
Putra 08101005008
ABSTRAK
Berdasarkan fungsi dan
manfaatnya, keberadaan terumbu karang sangat penting bagi ekosistem laut. Praktikum
ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luasan terumbu karang di sekitar
wilayah perairan sekitar Kep. Batu, Sumatera Utara. Keberadaan terumbu karang
dapat dideteksi melalui teknologi penginderaan jauh. Pemetaan substrat dasar
pesisir perairan digunakan transformasi Lyzenga. Data Citra di ambil di path
130 raw 059. Hasil perhitungan persentase luas tutupan karang dengan
menggunakan data penginderaan jauh pada tahun 2005 adalah 6251,94 ha.
Kata Kunci : Data citra, transformasi Lyzenga, Luasan Tutupan Karang
ABSTRACT
Based on the functions
and benefits, coral reefs are very important to the marine ecosystem. The lab
aims to determine the extent of change in coral reefs around the waters around
Kep. Batu, North Sumatra. The existence of coral reefs can be detected through
remote sensing technology. Mapping coastal waters substrate used Lyzenga
transformation. Image data taken in the path 130 raw 059. Results of
calculation of the percentage of coral cover has using remote sensing data in
2005 is 6251.94 ha.
Keywords: image data, transformation Lyzenga, The area of Coral Cover
I.
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat besar terutama
sumber daya alam yang berasal dari laut. Salah satunya adalah terumbu karang, kurangnya
pengetahuan masyarakat dalam pemanfaatan terumbu karang dan fungsi dari terumbu
karang itu sendiri membuat kondisi terumbu karang menjadi rusak. Program
pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan ekosistem terumbu karang di
Indonesia yang kurang telah membuat kondisi terumbu karang semakin
memprihatinkan.
Ekosistem terumbu karang terdapat pada lingkungan perairan yang
dangkal seperti paparan benua dan gugusan pulau-pulau di perairan tropis antara
lintang 30° LU dan 25° LS. Terumbu karang sebagai tempat hidup dari berbagai biota
laut tropis lainnya memiliki keanekaragaman jenis biota yang sangat tinggi dan
sangat produktif. Pada umumnya keberadaan dan kondisi terumbu karang sangat
mempengaruhi kekayaan dan keanekaragaman ikan karang. Jika kondisi terumbu
karang baik maka keanekaragaman ikannya tinggi, begitu juga sebaliknya, jika
kondisi terumbu karang buruk maka keanekaragaman ikannya rendah (Nybakken,
1992).
Ada beberapa teknik dan metode
pengambilan data terumbu karang. Salah satunya adalah dengan menggunakan sistem
penginderaan jauh yang memanfaatkan citra satelit untuk melihat pola persebaran
terumbu karang. Penggabungan teknik pengolahan citra (image procesing) dengan
data yang diambil secara langsung atau manual (ground check), dapat
meningkatkan akurasi pemetaan dengan teknologi penginderaan jauh.
Tujuan dari praktikum ini
adalah untuk mengetahui penggunaan peranti ER Mapper serta penggunaan dalam
menentukan luasan terumbu karang di suatu perairan (Pasaribu, 2008).
II.
BAHAN
DAN METODE
Alat yang digunakan adalah seperangkat komputer / laptop dan
piranti lunak (Er Mapper 7.0). Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
citra Landsat 7 – ETM+ path/row 130/059, tanggal perekaman 13 September 2005.
Metode yang digunakan dengan tahapan
yaitu pengolahan citra satelit Landsat 7 – ETM+ dan analisis citra satelit.
Pembentukan
citra komposit
Pembentukan citra komposit
dimaksudkan untuk mendapat gambaran umum tentang data yang akan diproses. Citra
komposit penggabungan kanal 4, 2, 1 (RGB).
Pemotongan citra
Pemotongan citra dilakukan untuk membatasi citra sesuai dengan daerah
kajian yang terdapat terumbu karang karena di dalam pemotretan sebuah wahana
satelit, satelit akan merekam data pada daerah yang luas sesuai dengan resolusi
spasial dari sensor yang digunakan oleh wahana satelit tersebut.
Transformasi citra
Pemetaan perairan dangkal untuk melihat sebaran terumbu karang dapat dilakukan
dengan penajaman citra yakni dengan menggunakan algoritma yang disusun oleh
Lyzenga (1978) dan dikembangkan di perairan Indonesia (Siregar,1996) :
Y = ln (TM1) + ki / kj ln (TM2)
Y = citra hasil ekstrasi dasar
perairan
TM1 = nilai digital kanal 1
Landsat TM
TM2 = nilai digital kanal 2
Landsat TM
ki / kj = nilai koefisien
atenuasi
dimana,
ki / kj = a + ²+1
dengan,
a = (var TM1 – var TM2) / (2 + covar TM1TM2)
var = nilai ragam dari nilai
digital
covar = nilai koefisien
keragaman dari nilai digital
Klasifikasi
citra
Klasifikasi citra adalah suatu
proses untuk mendapatkan citra yang telah dikelompokkan dalam kelas-kelas
tertentu berdasarkan nilai reflektansi tiap-tiap obyek. Citra yang dihasilkan
dengan transformasi citra selanjutnya diklasifikasikan untuk mengklaskan obyek atau tutupan lahan terumbu karang.
III.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Melalui
praktikum tentang penggunaan penginderaan jauh terhadap luasan terumbu karang,
maka hasil luasan terumbu karang dapat diketahui seberapa besar pertumbuhan
terumbu karang yang hidup di daerah tersebut.
Metode yang digunakan agar penampakan yang lebih maksimal
adalah dengan menggunakan metode penajaman multi image. Metode ini mengkombinasikan
band 1 dan band 2 berdasarkan algoritma penurunan standard exponential
attenuation model yang menghasilkan persamaan yang disebut transformasi
algoritma Lyzenga.
Setelah pemrosesan dilakukan, maka didapat nilai rasio
koefisien kanal 1 dan kanal 2 (ki/kj) dimana nilai yang didapat untuk citra
pada tanggal 13 September 2005 adalah 0,87 sehingga algoritma yang digunakan pada
citra ini adalah Y = ln (TM1) + 0,87 (TM2), hasil dari transformasi ini dapat dilihat
pada Gambar 1. Setelah persamaan Lyzenga dimasukkan ke dalam formula pengolahan
citra berdasarkan algoritma diatas, maka terlihatlah kelas substrat yang ada di
perairan sekitar.

Gambar 1. Algoritma Lyzenga
Pemetaan dengan menggunakan penginderaan jarak jauh tidak
dapat menentukan jenis terumbu karang atau bentuk pertumbuhan dari terumbu
karang di daerah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan survei lapangan pada
daerah pengamatan untuk memperoleh data dan informasi yang lebih rinci dan
akurat. Hasil pencitraan satelit yang dapat diketahui hanyalah perkiraan luasan
terumbu karang yang masih hidup maupun yang telah mati. Setelah melakukan transformasi
algoritma Lyzenga dan mengkelaskan substrat dasar dengan teknik klasifikasi tak
terbimbing terbimbing (unsupervised classification) pada hasil citra satelit,
maka luasan terumbu karang dapat dihitung.
Hasil akhir pengolahan citra dari pengklasifikasian kedua
citra yang dianalisis dapat dilihat pada Gambar 2. Daerah pada citra
dikelompokkan menjadi 3 kelas, yaitu terumbu karang, daratan, dan laut. Hasil
perhitungan dari keseluruhan luasan yang didapat dari proses pengklasifikasian
ditampilkan pada gambar 3.

Gambar 2. Hasil akhir
klasifikasi

Gambar 3. Citra Klasifikasi
Pada gambar 2 diperoleh dari
kalkulasi statistika citra Landsat 7-ETM+ pada perekaman tanggal 13 September
2005, dapat diketahui luasan terumbu karang sebesar 6251,94 ha.
IV.
KESIMPULAN
Hasil
perhitungan koefisien atenuasi untuk citra tanggal 13 September 2005 adalah 0,87
sehingga diperoleh algoritma untuk pengolahan citra yaitu Y = ln (TM1) + 0,87
ln (TM2). Estimasi luas terumbu karang hidup di perairan Kep. Batu, Sumatera
Utara dari citra tanggal 13 September 2005 adalah sebesar 6251,94 ha.
DAFTAR PUSTAKA
Nybakken J.W. 1992. Biologi
Laut: Suatu Pendekatan Ekologis (Alih bahasa oleh: Muh. Eidman, Koesoebiono,
Dietriech G.B., M. Hutomo, S. Sukardjo). Jakarta : PT. Gramedia. 459 hal.
Pasaribu RA. 2008. Studi perubahan luasan terumbu
karang dengan menggunakan data penginderaan jauh di perairan bagian barat daya
pulau moyo, Sumbawa [skripsi]. Bogor : program studi ilmu kelautan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 70 hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar