Jumat, 25 April 2014

Penentuan Luasan Terumbu Karang dari Data Citra Lansat di Perairan Kep. Batu, Sumatera Utara.

Penentuan Luasan Terumbu Karang dari Data Citra Lansat di Perairan Kep. Batu, Sumatera Utara.

Meriyansyah Putra 08101005008
Program Studi Ilmu Kelautan FMIPA Universitas Sriwijaya, Inderalaya

ABSTRAK
            Berdasarkan fungsi dan manfaatnya, keberadaan terumbu karang sangat penting bagi ekosistem laut. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luasan terumbu karang di sekitar wilayah perairan sekitar Kep. Batu, Sumatera Utara. Keberadaan terumbu karang dapat dideteksi melalui teknologi penginderaan jauh. Pemetaan substrat dasar pesisir perairan digunakan transformasi Lyzenga. Data Citra di ambil di path 130 raw 059. Hasil perhitungan persentase luas tutupan karang dengan menggunakan data penginderaan jauh pada tahun 2005 adalah 6251,94 ha.

Kata Kunci : Data citra, transformasi Lyzenga, Luasan Tutupan Karang

ABSTRACT
            Based on the functions and benefits, coral reefs are very important to the marine ecosystem. The lab aims to determine the extent of change in coral reefs around the waters around Kep. Batu, North Sumatra. The existence of coral reefs can be detected through remote sensing technology. Mapping coastal waters substrate used Lyzenga transformation. Image data taken in the path 130 raw 059. Results of calculation of the percentage of coral cover has using remote sensing data in 2005 is 6251.94 ha.

Keywords: image data, transformation Lyzenga, The area of ​​Coral Cover



I.       PENDAHULUAN
      Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat besar terutama sumber daya alam yang berasal dari laut. Salah satunya adalah terumbu karang, kurangnya pengetahuan masyarakat dalam pemanfaatan terumbu karang dan fungsi dari terumbu karang itu sendiri membuat kondisi terumbu karang menjadi rusak. Program pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan ekosistem terumbu karang di Indonesia yang kurang telah membuat kondisi terumbu karang semakin memprihatinkan.
      Ekosistem terumbu karang terdapat pada lingkungan perairan yang dangkal seperti paparan benua dan gugusan pulau-pulau di perairan tropis antara lintang 30° LU dan 25° LS. Terumbu karang sebagai tempat hidup dari berbagai biota laut tropis lainnya memiliki keanekaragaman jenis biota yang sangat tinggi dan sangat produktif. Pada umumnya keberadaan dan kondisi terumbu karang sangat mempengaruhi kekayaan dan keanekaragaman ikan karang. Jika kondisi terumbu karang baik maka keanekaragaman ikannya tinggi, begitu juga sebaliknya, jika kondisi terumbu karang buruk maka keanekaragaman ikannya rendah (Nybakken, 1992).
Ada beberapa teknik dan metode pengambilan data terumbu karang. Salah satunya adalah dengan menggunakan sistem penginderaan jauh yang memanfaatkan citra satelit untuk melihat pola persebaran terumbu karang. Penggabungan teknik pengolahan citra (image procesing) dengan data yang diambil secara langsung atau manual (ground check), dapat meningkatkan akurasi pemetaan dengan teknologi penginderaan jauh.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui penggunaan peranti ER Mapper serta penggunaan dalam menentukan luasan terumbu karang di suatu perairan (Pasaribu, 2008).

II.       BAHAN DAN METODE
     Alat yang digunakan adalah seperangkat komputer / laptop dan piranti lunak (Er Mapper 7.0). Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah citra Landsat 7 – ETM+ path/row 130/059, tanggal perekaman 13 September 2005.
Metode yang digunakan dengan tahapan yaitu pengolahan citra satelit Landsat 7 – ETM+ dan analisis citra satelit.
Pembentukan citra komposit
Pembentukan citra komposit dimaksudkan untuk mendapat gambaran umum tentang data yang akan diproses. Citra komposit penggabungan kanal 4, 2, 1 (RGB).
Pemotongan citra
Pemotongan citra dilakukan untuk membatasi citra sesuai dengan daerah kajian yang terdapat terumbu karang karena di dalam pemotretan sebuah wahana satelit, satelit akan merekam data pada daerah yang luas sesuai dengan resolusi spasial dari sensor yang digunakan oleh wahana satelit tersebut.
Transformasi citra
Pemetaan perairan dangkal untuk melihat sebaran terumbu karang dapat dilakukan dengan penajaman citra yakni dengan menggunakan algoritma yang disusun oleh Lyzenga (1978) dan dikembangkan di perairan Indonesia (Siregar,1996) :
Y = ln (TM1) + ki / kj ln (TM2)
Y = citra hasil ekstrasi dasar perairan
TM1 = nilai digital kanal 1 Landsat TM
TM2 = nilai digital kanal 2 Landsat TM
ki / kj = nilai koefisien atenuasi

dimana,
ki / kj = a + ²+1
dengan,
a = (var TM1 – var TM2) / (2 + covar TM1TM2)
var = nilai ragam dari nilai digital
covar = nilai koefisien keragaman dari nilai digital
Klasifikasi citra
            Klasifikasi citra adalah suatu proses untuk mendapatkan citra yang telah dikelompokkan dalam kelas-kelas tertentu berdasarkan nilai reflektansi tiap-tiap obyek. Citra yang dihasilkan dengan transformasi citra selanjutnya diklasifikasikan untuk  mengklaskan obyek atau tutupan lahan terumbu karang.

III.       HASIL DAN PEMBAHASAN
            Melalui praktikum tentang penggunaan penginderaan jauh terhadap luasan terumbu karang, maka hasil luasan terumbu karang dapat diketahui seberapa besar pertumbuhan terumbu karang yang hidup di daerah tersebut.
            Metode yang digunakan agar penampakan yang lebih maksimal adalah dengan menggunakan metode penajaman multi image. Metode ini mengkombinasikan band 1 dan band 2 berdasarkan algoritma penurunan standard exponential attenuation model yang menghasilkan persamaan yang disebut transformasi algoritma Lyzenga.
            Setelah pemrosesan dilakukan, maka didapat nilai rasio koefisien kanal 1 dan kanal 2 (ki/kj) dimana nilai yang didapat untuk citra pada tanggal 13 September 2005 adalah 0,87 sehingga algoritma yang digunakan pada citra ini adalah Y = ln (TM1) + 0,87 (TM2), hasil dari transformasi ini dapat dilihat pada Gambar 1. Setelah persamaan Lyzenga dimasukkan ke dalam formula pengolahan citra berdasarkan algoritma diatas, maka terlihatlah kelas substrat yang ada di perairan sekitar.
Gambar 1. Algoritma Lyzenga
            Pemetaan dengan menggunakan penginderaan jarak jauh tidak dapat menentukan jenis terumbu karang atau bentuk pertumbuhan dari terumbu karang di daerah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan survei lapangan pada daerah pengamatan untuk memperoleh data dan informasi yang lebih rinci dan akurat. Hasil pencitraan satelit yang dapat diketahui hanyalah perkiraan luasan terumbu karang yang masih hidup maupun yang telah mati. Setelah melakukan transformasi algoritma Lyzenga dan mengkelaskan substrat dasar dengan teknik klasifikasi tak terbimbing terbimbing (unsupervised classification) pada hasil citra satelit, maka luasan terumbu karang dapat dihitung.
            Hasil akhir pengolahan citra dari pengklasifikasian kedua citra yang dianalisis dapat dilihat pada Gambar 2. Daerah pada citra dikelompokkan menjadi 3 kelas, yaitu terumbu karang, daratan, dan laut. Hasil perhitungan dari keseluruhan luasan yang didapat dari proses pengklasifikasian ditampilkan pada gambar 3.
Gambar 2. Hasil akhir klasifikasi

Gambar 3. Citra Klasifikasi
            Pada gambar 2 diperoleh dari kalkulasi statistika citra Landsat 7-ETM+ pada perekaman tanggal 13 September 2005, dapat diketahui luasan terumbu karang sebesar 6251,94 ha.



IV.       KESIMPULAN
            Hasil perhitungan koefisien atenuasi untuk citra tanggal 13 September 2005 adalah 0,87 sehingga diperoleh algoritma untuk pengolahan citra yaitu Y = ln (TM1) + 0,87 ln (TM2). Estimasi luas terumbu karang hidup di perairan Kep. Batu, Sumatera Utara dari citra tanggal 13 September 2005 adalah sebesar 6251,94 ha.

DAFTAR PUSTAKA

Nybakken J.W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis (Alih bahasa oleh: Muh. Eidman, Koesoebiono, Dietriech G.B., M. Hutomo, S. Sukardjo). Jakarta : PT. Gramedia. 459 hal.


Pasaribu RA. 2008. Studi perubahan luasan terumbu karang dengan menggunakan data penginderaan jauh di perairan bagian barat daya pulau moyo, Sumbawa [skripsi]. Bogor : program studi ilmu kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 70 hal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar